ECONOMIC VALUE ADDED SEBAGAI UKURAN KINERJA
DAN FILOSOFI PERUSAHAAN
Pendahuluan
Setiap entitas bisnis (perusahaan) mempunyai tujuan untuk memaksimalkan
kekayaan para pemegang saham dengan meningkatkan nilai perusahaan dan semua
aktivitas perusahaan harus diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Keberhasilan entitas bisnis dalam memaksimalkan nilai perusahaan tergantung
pada efektivitas gabungan tujuan antara tujuan para pemegang saham dan manajer
melalui rancangan skema insentif yang tepat, meningkatkan produktivitas,
memperluas jaringan dengan pemasok, distributor dan pemerintah yang efisien
serta dengan mengurangi biaya transaksi. Dalam rangka mencapai keselarasan
tujuan (goal congruence), kompensasi manajer sering dihubungkan dengan kinerja
suatu pusat tanggung jawab dan juga dengan kinerja perusahaan. Oleh karena itu,
pemilihan ukuran kinerja yang tepat adalah tahapan yang kritis bagi
keberhasilan suatu perusahaan. Sebagian besar ukuran kinerja secara langsung
berhubungan dengan laba bersih perioda sekarang, total aktiva, penjualan
bersih. Contohnya adalah return on equity (ROE), return on assets (ROA), return
on investment (ROI) dan operating profit margin. ROE mengukur kinerja dari
perspektif pemegang saham, ROA mengukur imbal-hasil perusahaan yang diperoleh
melalui pendayagunaan total aktiva, ROI mengukur tingkat pengembalian investasi
(rasio perbandingan antara pendapatan yang dilaporkan pada laporan keuangan
dengan aktiva yang digunakan) dan operating profit margin mengukur keberhasilan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan melalui operasi perusahaan. Sedangkan
laba bersih tergantung pada efisiensi operasi, financial leverage dan kemampuan
perusahaan untuk merumuskan strategi yang tepat untuk menghasilkan keuntungan
yang memuaskan.
Penilaian kinerja menggunakan ukuran-ukuran di atas lebih menitikberatkan pada
maksimalisasi rasio laba daripada jumlah laba absolut, kurang mendorong manajer
suatu divisi untuk menambah investasi dan sifatnya hanya jangka pendek sehingga
dalam jangka panjang ada kemungkinan terjadi pertentangan dengan tujuan
perusahaan. Pengukuran kinerja menggunakan ukuran seperti ROE, ROE dan ROI
dapat menimbulkan perilaku disfungsional para manajer. Economic Value Added
(EVA) membantu mendorong jenis perilaku yang benar dari para manajer dengan
menunjukkan bahwa penekanan semata-mata pada pendapatan operasional tidaklah
cukup.
Economic Value Added
Konsep EVA dikembangkan oleh Joel Stern dan Bennett Stewart, co-founders
perusahaan konsultan Stern Stewart & Company, EVA merupakan merek dagang
Stern Stewart & Company. Konsep EVA didasarkan pada prinsip bahwa
perusahaan mampu menciptakan kekayaan untuk para pemegang saham hanya apabila
manajer mampu menghasilkan surplus melebihi total cost of capital yang
diinvestasikan. EVA adalah jumlah uang, bukan rasio. EVA dapat diperoleh dengan
mengurangkan beban modal (capital charge) dari laba operasi bersih (net
operating profit). EVA diukur dengan cara sebagai berikut:
EVA = Net profit – Capital charge
Capital charge = Cost of capital X Capital employed
Capital = total assets – non interest bearing debt, at the beginning of the
year
Cost of capital =( cost of equity X proportion of equity) + ( cost of
debt(1-tax
rate) X proportion of debt in the capital)
Cara lain EVA = Capital employed (ROI – Cost of capital)
Yang dimaksud dengan cost of capital adalah weighted average cost of capital
(WACC), sedangkan cost of equity umumnya dihitung dengan menggunakan model CAPM
yang menghubungkan tingkat pengembalian aset dengan risiko aset. Dari persamaan
di atas, dapat diketahui kunci keunggulan EVA adalah bahwa EVA menekankan pada
laba operasi setelah pajak (laba bersih) dan cost of capital aktual. Sehingga
EVA menghubungkan laba dengan jumlah sumber daya yang dibutuhkan untuk
mencapainya. EVA merupakan estimasi laba ekonomik perusahaan yang sebenarnya
dan hal itu jelas berbeda dengan laba akuntansi. EVA menggambarkan laba residu
yang tersisa setelah cost of capital, termasuk modal ekuitas, sedangkan laba
akuntansi ditentukan tanpa membebankan modal ekuitas
Perusahaan dapat memotivasi para manajernya untuk mengarahkan usaha mereka pada
maksimalisasi nilai perusahaan dengan cara, pertama mengukur nilai perusahaan
dengan benar dan kedua dengan memberikan insentif kepada para manajer untuk
menciptakan nilai. Kedua hal itu merupakan keadaan saling tergantung dan
melengkapi. Dengan melihat kedua hal tersebut, maka EVA mempunyai peranan sebagai
ukuran kinerja dan sebagai filosofi perusahaan. Sebagai ukuran kinerja, EVA
mampu menghasilkan ukuran kinerja yang lebih akurat, komprehensif dan
memberikan penilaian yang wajar atas kondisi perusahaan. EVA dapat dijadikan
dasar pengambilan keputusan investasi yang mampu mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan tingkat pengembalian atas investasi yang dilakukan, karena
cost of capital dihitung secara rata-rata tertimbang berdasarkan komposisi
struktur modal yang ada.
EVA sebagai filosofi perusahaan, ketika perusahaan menerapkan EVA di semua
level proses pengambilan keputusan manajerial, EVA mendorong manajer untuk
menggunakan sumber daya hanya pada aktivitas yang meningkatkan nilai dan untuk
menyelaraskan tujuan para pemegang saham dengan manajer serta mengurangi biaya
keagenan (agency cost). Hal ini melibatkan dua hal, pertama menghubungkan paket
kompensasi manajer dengan EVA dan kedua, menanamkan budaya untuk mengevaluasi
setiap tindakan dari sudut pandang bahwa itu akan menghasilkan EVA. Bagaimanapun,
dengan budaya EVA, fokus perusahaan secara keseluruhan adalah surplus ekonomi
pada setiap aktivitas perusahaan.
EVA sebagai Ukuran Kinerja
EVA merupakan ukuran lebih baik bila dibandingkan dengan ukuran kinerja
lain dalam empat hal yaitu lebih mendekati arus kas perusahaan yang sebenarnya;
mudah dihitung dan dipahami; mempunyai korelasi yang lebih tinggi dengan nilai
pasar perusahaan; dan penggunaan EVA dalam kompensasi karyawan mendorong
keselarasan tujuan antara manajer dengan para pemegang saham, sehingga hal ini
akan mengurangi perilaku disfungsional para manajer. Jika EVA benar-benar
menggambarkan arus kas perusahaan yang sebenarnya, mudah dihitung dan dipahami,
maka secara otomatis EVA memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap
perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan. EVA seharusnya dapat
mengurangi perilaku disfungsional manajer ketika digunakan sebagai ukuran
insentif. Dengan kata lain, hubungan yang dekat dengan penilaian pasar dan
menyatukan kepentingan manajer dengan kepentingan para pemegang saham merupakan
ciri khas EVA sebagai ukuran kinerja yang lebih baik. EVA digunakan untuk
mengevaluasi kinerja manajer sebagai bagian dari program pemberian insentif,
alasannya adalah EVA menunjukkan nilai tambah selama perioda tertentu dan EVA
dapat diterapkan kepada unit-unit bisnis atau unit lainnya dari suatu
perusahaan yang besar.
Keunggulan EVA sebagai ukuran kinerja tidak lepas dari kelemahan ukuran kinerja
lain seperti ROI, ROA dan ROE yang didasarkan pada angka akuntansi. Salah satu
kelemahannya adalah mengabaikan cost of equity dan hanya mempertimbangkan cost
of debt. Sebagai hasilnya, hal itu akan mengabaikan risiko inheren suatu proyek
dan gagal untuk menyoroti apakah tingkat pengembalian sepadan dengan risiko
aset yang mendasarinya. Contohnya, keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI
suatu pusat investasi dapat menurunkan laba keseluruhan. Jika suatu pusat
investasi sekarang memiliki ROI 30%, manajer dapat meningkatkan ROI dengan
menjual aktiva yang ROI-nya 25%. Tetapi jika keseluruhan cost of capital yang
terkait di pusat investasi tersebut kurang dari 25% maka laba absolut setelah
mengurangkan cost of capital akan merupakan penurunan bagi pusat investasi
tersebut. Pemakaian EVA sebagai ukuran berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Jika kinerja suatu pusat investasi diukur dengan EVA, maka investasi-investasi
yang menghasilkan laba di atas cost of capital akan meningkatkan EVA dan oleh
karena itu, akan lebih menarik para manajer.
Jika manajer mengetahui bahwa kinerja mereka diukur dengan EVA dan kompensasi
yang akan diterima juga dihubungkan dengan EVA, maka manajer akan meningkatkan
EVA dengan cara peningkatan ROI melalui business process reengineering dan
productivity gains, tanpa menaikkan dasar investasi; divestasi aktiva, produk
dan/atau bisnis yang ROI-nya kurang dari cost of capital; investasi agresif
yang baru dalam aktiva, produk, dan/atau bisnis yang ROI-nya melebihi cost of
capital; dan peningkatan penjualan, margin laba atau efisiensi modal. Ketika
manajer melakukan salah satu atau lebih hal di atas maka nilai perusahaan akan
meningkat. Jadi meningkatkan EVA secara teoritis akan meningkatkan nilai
perusahaan dan karenanya ini adalah ukuran yang bagus bagi kinerja manajer.
Walaupun EVA sebagai ukuran kinerja memiliki keunggulan dibandingkan ukuran
kinerja lainnya, masih banyak perusahaan yang mengalami kesulitan berkenaan
dengan EVA. Kesulitan yang dihadapi kebanyakan perusahaan adalah menghitung
cost of capital yang terpakai dan menghitung cost of equity dengan model CAPM.
Dua langkah untuk menghitung cost of capital yang terpakai yaitu menentukan
biaya tertimbang rata-rata atas modal (dalam persentase) dan menentukan total
jumlah modal yang dipakai. Untuk menghitung biaya tertimbang rata-rata atas
modal, perusahaan harus mengidentifikasi seluruh sumber dana yang
diinvestasikan. Perhitungan cost of equity memakai model CAPM mendatangkan
kesulitan tersendiri, karena sulit untuk mengukur berapa risk-free-rate of
return, beta dan market premium.
Kesulitan makin bertambah jika perusahaan berada pada lingkungan ekonomi,
dimana suku bunga berfluktuasi, indeks pasar modal mempunyai volatilitas yang
tinggi dan kebijakan pemerintah yang tidak jelas. Oleh karena itu, EVA sebagai
ukuran kinerja perusahaan lebih tepat diterapkan oleh perusahaan-perusahaan
yang berada di negara yang kondisi perekonomiannya stabil. Kesulitan lainnya
adalah EVA tidak dapat memberikan sinyal masa depan. EVA adalah ukuran perioda
tunggal dan didasarkan pada peristiwa yang sudah terjadi. Jadi nilai EVA sekarang
tidak memberikan sinyal apapun tentang EVA yang akan datang dan karenanya tidak
memberikan indikasi apapun tentang kinerja yang akan datang.
EVA sebagai Filosofi Perusahaan
EVA sangat berguna untuk meningkatkan produktivitas perusahaan, apabila EVA
diterapkan sebagai filosofi perusahaan. Produktivitas harus diukur dalam bentuk
penciptaan kekayaan untuk para pemegang saham. Suatu filosofi perusahaan yang
tepat harus menghasilkan keselarasan tujuan (goal congruence) dan harus
menyalurkan semua usaha manajer dan karyawan ke arah tujuan dan strategi
perusahaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Perusahaan dapat meningkatkan
nilainya hanya jika perusahaan mampu mencapai produktivitas optimal, dalam
jangka waktu perioda yang panjang. Selama bertahun-tahun ahli manajemen dan
konsultan telah mengusulkan banyak alat dan teknik untuk meningkatkan
produktivitas. Alat dan teknik itu antara lain Management Information System
(MIS), Business Process Reengineering (BPR), Enterprise Resource Planning
(ERP). Meskipun semua alat tersebut mempunyai perspektif berbeda, tetapi
tujuannya adalah meningkatkan produktivitas dalam arti fisik dan mengabaikan
konsep nilai. MIS meningkatkan kualitas dan aliran informasi, BRP dengan
menyederhanakan proses yang ada dan menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai
tambah, dan ERP dengan memastikan alokasi yang efisien dan utilisasi sumber
daya perusahaan. Alat tersebut memudahkan perusahaan meningkatkan produktivitas
dan efisiensi yang pada akhirnya akan meningkatkan laba perusahaan tetapi laba
perusahaan yang meningkat, bukanlah jaminan untuk meningkatnya nilai para
pemegang saham. Keberhasilan alat-alat ini digambarkan dalam pengurangan biaya
pengiriman barang atau jasa kepada pelanggan, meskipun itu tidak selalu
meningkatkan nilai para pemegang saham. Alat-alat tersebut gagal untuk
membedakan aktivitas yang menciptakan nilai dan aktivitas yang menghancurkan
nilai karena tidak mengukur surplus secara ekonomi yang dihasilkan oleh
aktivitas yang berbeda.
EVA merupakan konsep yang mudah dipahami. EVA, sebagai filosofi perusahaan,
memerlukan pemakaian EVA di setiap tingkat keputusan dalam organisasi.
Sesungguhnya EVA harus diadopsi sebagai budaya dalam perusahaan daripada hanya
digunakan untuk proyek. EVA ketika digunakan sebagai filosofi perusahaan tidak
memerlukan estimasi yang tepat, oleh karena itu kesulitan dalam mengestimasi
EVA tidak menjadi hambatan untuk membangun EVA sebagai budaya organisasi.
Perusahaan dapat memperkirakan berapa kira-kira WACC sebagai cost of capital
perusahaan yang akan digunakan dalam keputusan penganggaran modal. Oleh karena
itu, tidak sulit bagi karyawan menggunakan EVA untuk pembuatan keputusan
termasuk keputusan operasional.
Ada lebih dari 300 perusahaan yang telah menerapkan EVA sebagai filosofi
perusahaan. Banyak dari perusahaan ini adalah perusahaan multinasional yang
sukses seperti Coca-cola, Baush & Lomb, Briggs & Stratton dan Herman
Miller. Budaya EVA dapat meningkatkan efisiensi dalam pemberian pelayanan dan
memotivasi karyawan. Keunggulan EVA dibandingkan alat-alat lain (MIS, ERP,BRP)
adalah kemampuan EVA meningkatkan nilai perusahaan karena mudah dipahami dan
jelas secara konsep. EVA mempertimbangkan cost of capital dan hal ini harus
dipahami oleh setiap orang yang terlibat dalam kegiatan operasional. Manajer
berusaha untuk menyampaikan kepada semua karyawan bahwa setiap aktivitas adalah
aktivitas yang meningkatkan nilai dan menghasilkan tingkat pengembalian
melebihi cost of capital yang digunakan untuk aktivitas tersebut.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, metoda kompensasi berdasarkan EVA mampu
mencapai keselarasan tujuan dan meminimalkan biaya keagenan (agency cost).
Pemakaian EVA meningkatkan pengelolaan internal perusahaan dalam pengertian
bahwa EVA memberikan motivasi kepada manajer untuk menghilangkan aktivitas yang
bersifat merusak nilai dan hanya berinvestasi pada proyek yang diharapkan dapat
meningkatkan nilai para pemegang saham.
Idealnya, sistem pengendalian manajemen harus mendorong manajer untuk
mengendalikan dirinya sendiri daripada manajer yang diawasi karena manusia
mempunyai kecenderungan tidak mau diawasi. Pemberian kompensasi yang
dihubungkan dengan EVA membantu karyawan untuk mengawasi dirinya sendiri dalam
setiap tindakan yang diambil untuk memastikan bahwa tindakan tersebut
meningkatkan EVA perusahaan. Pemakaian EVA sebagai ukuran kompensasi, mendorong
manajer menciptakan aktivitas yang bernilai sehingga pada akhirnya akan
meningkatkan nilai perusahaan. Pemakaian EVA sebagai ukuran kompensasi dapat
menghasilkan perbaikan dalam efisiensi operasi dengan meningkatkan perputaran
aktiva; mengarahkan manajer untuk menggunakan aktiva perusahaan lebih
produktif; membuang aktiva yang tidak berguna dan mengurangi investasi baru
(asumsi jika aktiva tidak dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang cukup
jika dibandingkan dengan keseluruhan cost of capital); membantu mengurangi
perbedaan tujuan/kepentingan antara manajer dengan para pemegang saham.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa EVA sebagai filosofi perusahaan dapat
meningkatkan pengelolaan internal perusahaan dan menyelaraskan tujuan antara
manajer dan para pemegang saham.
Kesimpulan
Konsep EVA didasarkan pada prinsip ekonomi yang sehat bahwa nilai
perusahaan akan meningkat hanya jika dapat menghasilkan surplus melebihi cost
of capital. Perusahaan memakai EVA secara internal sebagai ukuran kinerja untuk
memperbaiki produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai para
pemegang saham. EVA sebagai filosofi perusahaan dapat memberikan motivasi dan
pembelajaran kepada karyawan untuk membedakan antara aktivitas penciptaan nilai
dan aktivitas yang bersifat merusak nilai dan meningkatkan pengelolaan internal
perusahaan. EVA akan mengarahkan seluruh usaha perusahaan dalam penciptaan
nilai untuk para pemegang saham dan menyelaraskan tujuan manajer dengan tujuan
para pemegang saham.